Selamat Datang Di Blog Saya

Senin, 08 November 2010

PROSEDUR OPERASI YANG TAK BIASA

 Operasi atau pembedahan adalah salah satu cara perawatan untuk beberapa kondisi tertentu. Tapi ada 4 operasi yang tidak umum dilakukan, mau tahu?

Beberapa langkah operasi seperti caesar, operasi usus buntu, pengangkatan kista atau operasi untuk mengangkat tumor mungkin terdengar biasa di telinga.

Tapi seperti dikutip dari Askmen, Senin (8/11/2010) ada 4 operasi yang langka atau tidak biasa digunakan, yaitu;

1. Operasi transplantasi keseluruhan wajah (full face transplant)
Selama 24 tahun, seorang pria asal Prancis, Pascal Coler (30 tahun) harus berdiam diri di rumah dan hidup dalam penderitaan karena mengalami kondisi genetik neurofibromatosis yang membuatnya mendapat julukan Elephant Man. 

Karena tak tahan dengan ejekan, maka ia memberanikan diri melakukan operasi tranplastasi wajah secara keseluruhan.

Pada Maret 2008 ia melakukan operasi selama 16 jam di Henri-Mondor Hospital, Creteil, Perancis dan memberinya bibir, hidung, pipi dan mulut baru yang bisa membuatnya tersenyum. Prosedur ini tergolong luar biasa dan dipuji sebagai transplantasi wajah penuh yang pertama.

2. Tidak ada sayatan dalam operasi usus buntu
Operasi usus buntu adalah prosedur yang akan memberikan bekas luka besar karena diperlukan ruang untuk mengeluarkan usus buntu. Tapi kini operasi tersebut bisa dilakukan tanpa ada sayatan sama sekali, karena usus buntu yang diangkan akan dikeluarkan melalui vagina atau anus.

Pada Maret 2008, ahli bedah dari University of California, San Diego melakukan operasi terhadap Diana Schlamadinger dengan mengeluarkan usus buntunya melalui vagina dengan sayatan kecil di dinding dalam bagian vagina dan di bagian bawah perut. Meskipun memunculkan gambar yang mengerikan, tapi operasi ini memberikan keuntungan waktu pemulihan yang lebih cepat dan mengurangi nyeri.

3. Operasi transplantasi saraf
Pada 17 November 2005, Frankie Anderson Harris menyumbangkan saraf dari kedua tangan dan kaki untuk diberikan pada anaknya yang mengalami kelumpuhan tangan akibat kecelakaan. Saraf yang disumbangkan ini akan bergabung dengan saraf lengan yang terputus. Setelahnya, Frankie akan mengalami mati rasa di kaki dan siku yang akan hilang dari waktu ke waktu.

Operasi ini berjalan sukses, meskipun Nick harus mengonsumsi obat imunosupresif selama setahun untuk menghindari reaksi penolakan tubuh terhadap saraf barunya.

4. Operasi pengangkatan tumor menggunakan robot
Pada Mei 2008, Paige Nickason (21 tahun) menjalani operasi pengangkatan tumor di kepalanya menggunakan robot. Dengan menggunakan remote control dan layar gambar, dokter di Foothills Medical Centre, Calgary memandu robot berlengan dua yang dinamai NeuroArm. Prosedur pengangkatan tumor ini berlangsung 9 jam.

Prosedur ini tergolong kompleks dan menggunakan teknologi robot yang memadukan gambar dengan kontrol. Operasi ini tergolong langka dan merupakan yang pertama untuk jenis tersebut.

PENYAKIT KELAMIN AKAN BISA DIDETEKSI DENGAN PONSEL

kelamin mulai banyak menyerang kalangan anak muda, tapi banyak yang malu berkonsultasi dengan dokter meski sudah curiga dengan gejala-gejalanya. Nah, sebentar lagi akan ada ponsel yang bisa dengan mudah mendeteksi penyakit kelamin.

Tingginya laju penularan infeksi HIV dan penyakit kelamin membuat dokter dan ahli teknologi mengembangkan perangkat kecil mirip alat tes kehamilan, yang akan memberitahu seseorang dengan cepat dan pribadi tentang infeksi penyakit kelamin yang menginfeksi melalui hubungan seksual.

Perangkat ponsel ini akan segera hadir untuk dapat mendiagnosa infeksi menular seksual (IMS) melalui program inovatif untuk memotong laju penularan herpes, klamidia dan gonore (kencing nanah) di kalangan anak muda.

Dengan menggunakan alat ini, orang yang curiga terinfeksi dapat menempatkan urine atau air liur ke chip komputer seukuran chip USB, yang kemudian dihubungkan dengan ponsel atau komputer untuk menerima diagnosa dalam beberapa menit.

"Ponsel pribadi Anda nanti akan bisa jadi ponsel dokter yang bisa mendiagnosa salah satu dari berbagai penyakit kelamin, sehingga Anda bisa dengan mudah mendapatkan pengobatan," jelas Dr Tariq Sadiq, pemimpin studi dan konsultan dokter kesehatan seksual dan HIV di St George's, University of London, seperti dilansir Guardian, Senin (8/11/2010).

Menurut Dr Sadiq, perangkat 'tes diri' ini memang cocok ditujukan untuk orang-orang muda yang tanggap teknologi.

"Saya khawatir banyak anak muda yang malu datang ke dokter atau klinik untuk memeriksakan penyakitnya, sehingga bisa membuat penyakit kelamin yang dideritanya semakin parah dan menjadi tak bisa diobati," jelas Dr Sadiq.

Ahli kesehatan seksual berharap perangkat ini akan membantu mengurangi pertumbuhan jumlah penderita penyakit seksual yang telah meningkat selama sepuluh tahun terakhir, khususnya pada kalangan anak muda dibawah usia 25 tahun.

Peneliti juga berencana melakukan pengujian cepat dan berharap perangkat ini segera bisa dipasarkan di banyak tempat umum layaknya kondom, seperti di klub malam, apotek dan supermarket.

"Ini merupakan penelitian yang menarik dan pengembangan konsorsium (usaha bersama) yang akan mengembangkan teknologi baru yang baik untuk meningkatkan dan memperluas pengujian penyakit kelamin," Prof Noel Gill, kepala HIV dan IMS di Health Protection Agency.