Selamat Datang Di Blog Saya

Minggu, 02 Januari 2011

KEMATIAN BAYI MENDADAK MENINGKAT DI TAHUN BARU

Malam tahun baru umumnya dirayakan dengan sukacita dan bergembira. Tapi survei membuktikan sindrom kematian bayi mendadak (sudden infant death syndrome/SIDS) meningkat di malam tahun baru.

Berdasarkan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Addcictiondiketahui bahwa jumlah bayi yang meninggal karena sindrom kematian bayi mendadak meningkat sebesar 33 persen pada tahun baru.

Kematian bayi mendadak (sudden infant death syndrome/SIDS) terjadi pada bayi di bawah usia satu tahun yang mengalami kematian mendadak tapi tidak ditemukan penyebab pastinya. Biasanya kondisi ini tanpa disertai dengan gejala atau peringatan awal yang muncul.

Studi yang dipimpin oleh David Phillip, seorang sosiolog dari University of California, San Diego memeriksa 129.090 kasus SIDS selama tahun 1973-2006 dengan menggunakan data nasional. Para peneliti menyakini konsumsi alkohol ibu saat tahun baru memainkan peran dalam peningkatan jumlah SIDS.

Phillip dan rekan menemukan beberapa bukti yang mengaitkan SIDS dengan alkohol, yaitu adanya peningkatan konsumsi alkohol pada malam tahun baru serta diketahui tingkat kematian SIDS tinggi untuk anak-anak yang ibunya mengonsumsi alkohol. Bayi yang ibunya minum alkohol berisiko dua kali lipat meninggal akibat SIDS.

"Kita tahu bahwa orang yang berada di bawah pengaruh alkohol akan memiliki gangguan dalam hal penilaian sehingga ia tidak bisa melakukan tugas untuk merawat atau menjaga bayi," ujar Phillips, seperti dikutip dari Healthland.time.com, Jumat (31/12/2010).

Meskipun penelitian ini belum memberikan informasi yang rinci, tapi hal ini bisa menjadi pengingat bagi setiap orangtua untuk memiliki tindakan pencegahan sebelum pergi merayakan tahun baru.

Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah SIDS seperti membiarkan bayi tidur dalam posisi terlentang, jangan ada asap rokok di sekitarnya, menggunakan seprai dan selimut secara hati-hati serta tingkatkan ventilasi udara di kamar bayi 

DISOROT LASER AGAR BERHENTI MEROKOK

Penelitian menunjukkan dua pertiga perokok sebenarnya ingin berhenti, namun tak semuanya berhasil mengatasi ketagihan. Berbagai cara alternatif untuk menghentikan ketagihan rokok ditawarkan, salah satunya dengan terapi laser.

Sebenarnya terapi ini bukan barang baru karena sudah diperkenalkan sejak tahun 2009. Namun hingga kini belum banyak layanan kesehatan yang menerapkannya karena memang belum banyak penelitian yang membuktikan efektivitasnya.

Di Inggris, terapi ini hanya diberikan di klinik-klinik alternatif. Rumah sakit pemerintah tidak melayaninya, namun tidak melarang terapi laser selama para perokok yang ingin berhenti dapat merasakan manfaatnya.

"Belum ada cukup bukti untuk merekomendasikan terapi ini. Tapi jika seseorang menemukan cara yang efektif bagi dirinya untuk berhenti merokok, tentu itu sangat bagus karena rokok memicu banyak penyakit dan kematian dini," ungkap juru bicara Departemen Kesehatan Inggris dalam wawancara dengan The Sun.

Salah satu pasien terapi laser yang sukses mengatasi ketagihan rokok adalah Susi Russell, wanita 34 tahun asal Liverpool. Wanita ini merokok sejak umur belasan tahun dan tergolong perokok berat yang tidak bisa memulai harinya tanpa tembakau di pagi hari.

Namun sejak menjalani 2 sesi terapi laser di sebuah klinik di Wimbledon, ia tidak pernah lagi merasa sakau atau ketagihan. Terakhir ia mengunjungi klinik tersebut pada 26 November 2010 dan sejak saat itu ia belum pernah sakaw meski tidak menghisap sebatang rokokpun.

"Sebelumnya saya juga pernah mencoba terapi lain, dengan obat yang membuat saya berhalusinasi, merasa sakit lalu terhipnosis untuk berhenti merokok. Tapi kumat lagi dan baru kali ini bisa berhasil," ungkap Susi seperti dikutip dari The Sun, Jumat (31/12/2010).

Terapi laser diberikan sedikitnya dalam 2 sesi, masing-masing dilakukan dalam waktu 30-60 menit. Tiap sesi berisi penembakan sinar laser berkekuatan rendah ke sejumlah titik di daerah telinga, hidung, lengan dan pergelangan yang cara kerjanya mirip dengan akupunktur.

Salah satu penelitian yang membuktikan efektivitas terapi ini pernah dilakukan di Middlesex Universitypada tahun 2009. Dari 340 perokok yang diterapi dalam 3-4 sesi, lebih dari 50 persen berhasil menghentikan kebiasaan merokoknya tanpa mengalami sakaw hingga beberapa bulan kemudian.