Selamat Datang Di Blog Saya

Sabtu, 14 Mei 2011

GANDENG CARREFOUR, PEMERINTAH INGIN IKAN LOKAL GO INTERNASIONAL


Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggandeng PT Carrefour Indonesia untuk memasarkan hasil ikan para nelayan kepada masyarakat. Bahkan, ke depan hasil tangkapan nelayan Indonesia bisa dipasarkan di luar negeri.

Demikian disampaikan oleh Direktur Jenderal Pengelolaan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) Kementerian Kelautan dan Perikanan Victor P.H. Nikijuluw usai MoU dengan Carrefour di Kantornya, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta, Rabu (23/3/2011).

"Carrefour dengan jaringannya akan memasarkan tangkapan dari nelayan kita. Tidak hanya itu, Carrefour juga mengadakan program UMKM binaan untuk mengembangkan produksi para nelayan," ujar Victor.

Dikatakan Victor, melalui jaringan Carrefour yang luas hingga negara tetangga maka nantinya hasil tangkapan para nelayan bisa dipasarkan di luar.

"Seperti negara Singapura dan negara Asia Tenggara lain. Ini untuk skema jangka panjang, saat ini di Indonesia dulu," tuturnya.

Lebih jauh Victor juga mengatakan nantinya di Gerai Carrefour akan disediakan pojok perikanan yang diisi oleh para nelayan yang memasarkan dagangannya langsung.

"Rencana pojok khusus perikanan itu akan segera dilakukan seiring dengan kampanye makan ikan. Kita juga pasang poster edukasi mengenai perikanan di gerai Carrefour," tambahnya.

Tidak tanggung-tanggung, Victor mengatakan pihaknya akan bekerjasama juga dengan Indomart dan Alfamart dalam waktu dekat dengan konsep yang sama seperti di Carrefour. 

"Tahun ini akan dilakukan semua kerjasama-kerjasama dengan peritel," tuturnya.

Sebelumnya KKP telah mengkampanyekan Safari Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan atau Gemarikan. Selain konsumsi ikan yang membuat masyarakat menjadi cerdas, memakan ikan juga menyehatkan.

"Ini sebuah gerakan untuk membuat masyarakat agar banyak makan ikan, orang makan ikan itu tidak jadi hal utama di tingkat Nasional," ujar Menteri KKP Fadel Muhammad.

Fadel menjelaskan, masyarakat di Indonesia hanya mengkonsumsi 30 kg ikan per orang per kepala. Sedangkan di Jepang itu mencapai 150 kg per orang per kepala.

"Indonesia saja kalah dengan di Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Maka dari itu kita kampanyekan makan ikan secara nasional," ungkap Fadel.

Fadel menambahkan, di Jawa saja rata-rata hanya 16 kg per orang per kepala.

Maka dari itu, lanjutnya, diperlukan kerja keras untuk memacu konsumsi ikan masyarakat, antara lain meningkatkan produktivitas nelayan dan menggerakkan rumah tangga untuk memprioritaskan menu ikan pada makanan sehari-hari.

INDONESIA RAIH ORDER SEAFOOD RP 274,8 M DARI EROPA


Brussel - Order seafood senilai USD 32,1 juta (Rp274,8 miliar) diraih dari partisipasi pada pameran hasil perikanan European Seafood Expo (ESE) 2011 di Brussel selama 3 hari. 

Nilai transaksi sebesar itu diraih oleh perusahaan-perusahaan yang ikut dalam ESE atas fasilitasi Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, demikian Sekretaris III Pensosbud Diplik Punjul Nugraha dalam keterangan pers kepada detikfinance, Sabtu (14/5/2011). 

Transaksi tersebut mencakup pembelian langsung maupun kontrak jangka menengah untuk pengadaan hasil perikanan ke beberapa pelanggan di Eropa. 

Menurut catatan KBRI Brussel, angka ini merupakan peningkatan tajam, jika dibandingkan dengan nilai transaksi pada partisipasi Indonesia di ESE tahun lalu sebesar Rp 89,9 miliar. 

Pameran seafood terbesar di dunia (3-5/5/2011), yang diselenggarakan secara rutin setiap tahun tersebut diikuti oleh 1.600 pelaku usaha, baik pembeli maupun penjual produk perikanan, dari 140 negara. 

Dari Indonesia terdapat enam partisipan eksportir seafood atas fasilitasi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan RI dan enam lainnya atas fasilitasi dari Centre for Promotion of Imports from Developing Countries (CBI). 

Paviliun Indonesia dibuka resmi oleh Menteri Kelautan dan Perikanan RI Fadel Muhammad dan Direktur Centre for Promotion of Imports from Developing Countries, Hans Klunder. 

Dalam sambutannya, Fadel menyampaikan bahwa partisipasi Indonesia pada ESE ini adalah penting bagi para pelaku bisnis seafood untuk melakukan transaksi, baik dengan global retailer, food services, maupun wholesale market. 

Selama tiga hari penyelenggaraan Pameran, pavilion Indonesia juga menampilkan demo memasak seafood. Aktivitas ini memperoleh tanggapan positif dari pengunjung yang berkesempatan langsung untuk mencicipi seafood asal Indonesia. 

Selama di Brussel, Fadel juga mengadakan pertemuan dengan berbagai pihak, utamanya yang bergerak di sektor perikanan dan hasil kelautan dari Eropa. 

Dalam berbagai pertemuan tersebut, disepakati untuk meningkatkan kerjasama yang telah terjalin dengan tujuan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas ekpor produk perikanan asal Indonesia ke Eropa. 

Sementara itu Dubes Havas mengatakan bahwa memperhatikan standar kualitas Eropa atas produk perikanan adalah hal penting agar produk asal Indonesia dapat diterima dengan baik oleh pasar Eropa. 

“Pengembangan ekspor produk perikanan asal Indonesia juga perlu ditunjang oleh peningkatan kualitasnya,” ujar Dubes. 

Menurut Dubes, kendala-kendala di bidang akses pasar karena persoalan kualitas dapat ditanggulangi melalui kerjasama dengan sejumlah pihak di Uni Eropa yang dapat membantu di bidang peningkatan kapasitas dan perbaikan kualitas produksi. 

Pada kesempatan terpisah, Menteri Kelautan dan Perikanan didampingi oleh Dubes Havas juga mengadakan peninjauan ke Pusat Penelitian dan Pendidikan Akuakultur (CEFRA), milik Univesitas Liege, Belgia. 

CEFRA adalah lembaga riset terkemuka di Eropa dalam bidang budidaya perikanan perairan tropis, yaitu memanfaatkan aliran air pendingin reaktor nuklir untuk mensimulasikan perairan tropis. 

Meskipun berdekatan dengan reaktor nuklir, pihak CEFRA memastikan bahwa tidak ada radiasi pada ikan hasil budidayanya. 

Temuan CEFRA yang dapat bermanfaat bagi Indonesia adalah vaksin yang dapat menangkal virus herpes pada ikan koi. Vaksin ini akan sangat membantu para peternak ikan koi yang sering menghadapi masalah virus ikan koi. 

Di antara hasil kunjungan ke CEFRA adalah kesepakatan kerjasama bilateral Indonesia–Belgia untuk peningkatan kapasitas akuakultur di Indonesia.