Selamat Datang Di Blog Saya

Selasa, 17 Januari 2012

JAM BIOLOGIS YANG TERGANGGU BISA PICU KERUSAKAN OTAK


Jakarta, Tubuh memiliki sebuah jam biologis yang berfungsi mengatur apa yang harus dilakukan tubuh secara alami. Jam biologis mengatur kapan tubuh harus beristirahat, memerlukan makanan atau kegiatan lainnya yang dilakukan selama 24 jam. Kerusakan pada jam biologis ini dapat merusak otak.

Untuk pertama kalinya, para ilmuwan di Oregon State Universitymenemukan bahwa terganggunya jam biologis bisa mempercepat kerusakan sel otak, hilangnya fungsi motorik dan kematian dini.

"Saat ini, banyak peneliti yang berminat dalam studi mengenai jam biologis atau ritme sirkadian, begitu juga kami yang tertarik mempelajari tentang berbagai masalah yang dapat terjadi ketika jam biologis terganggu. Pada akhirnya, kami berharap bahwa penelitian ini dapat diambil dari laboratorium dan diterapkan dalam kehidupan nyata," kata peneliti, Kuntol Rakshit seperti dilansirScienceagogo.com, Senin (16/1/2012).

Penelitian yang dimuat dalam jurnal Neurobiology of Disease ini dilakukan pada lalat buah karena memiliki beberapa kesamaan gen dengan manusia. Beberapa gen yang mengatur irama sirkadian pada lalat buah memiliki kesamaan dengan manusia, meskipun telah melewati proses evolusi jutaan tahun.

Jam biologis pada manusia dan hewan lainnya mempengaruhi berbagai proses biologis, dari mulai kesuburan hingga produksi hormon, pola makan, perbaikan DNA, tidur, reaksi stres dan bahkan efektivitas obat. Pada manusia, peneliti telah menemukan hubungan yang kuat antara mekanisme jam biologis yang terganggu dengan penuaan dan penyakit saraf seperti Alzheimer (hilang memori yang parah).

Lalat buah yang digunakan dalam penelitian ini telah mengalami dua mutasi, salah satu mutasi mengganggu ritme sirkadian dan mutasi lain menyebabkan lalat mengalami penyakit otak karena penuaan.

Lalat yang termutasi ganda memiliki umur 32-50 persen lebih pendek, kehilangan banyak fungsi motorik dan mengalami vakuola (lubang di otak) jauh lebih cepat dibandingkan lalat dengan jam biologis yang baik. Para peneliti berspekulasi bahwa gangguan jam biologis lah yang menyebabkan efek merusak.

"Penurunan dan hilangnya fungsi jam biologis mungkin hanya awal dari sebuah proses siklus yang merusak. Ketika jam biologis mulai rusak, ritme yang mengatur fungsi sel dan kesehatan jadi terganggu dan kita sekarang tahu bahwa hal ini memicu kerusakan sel saraf pada otak, sehingga dapat menyebabkan lebih banyak kerusakan pada fungsi jam biologis," jelas rekan peneliti, Jadwiga Giebultowicz.

Para peneliti percaya bahwa jam biologis yang sehat dapat membantu melindungi tubuh dari kerusakan ini.

"Ketika jam biologis rusak, proses kerusakan dipercepat. Proses penuaan terkait erat dengan proses ini, tapi tidak jelas bagaimana prosesnya. Menemukan cara untuk memulihkan jam biologis bisa jadi sebuah terapi untuk mencegah kerusakan jam biologis dan membantu mencegah perkembangan penyakit," kata Giebultowicz.

GAMBAR EROTIS BIKIN PRIA MAU AMBIL RISIKO BESAR


Jakarta, Laki-laki dikenal mudah terpengaruh wanita. Tidak hanya cepat merespons hal-hal berbau erotis, laki-laki juga bisa kehilangan akal ketika melihat foto-foto erotis. Itulah kenapa di lokasi kasino, pemiliknya memajang perempuan-perempuan super seksi untuk memancing pria lebih berani mempertaruhkan hartanya.

Peneliti dari Stanford University telah menemukan bahwa ketika laki-laki melihat foto erotis, area otak yang berhubungan dengan harapan akan mendapat rangsangan. Hal ini menyebabkan laki-laki mau mengambil risiko yang lebih besar daripada yang mereka mampu.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal NeuroReport ini menggunakan scan otak fMRI untuk melacak perubahan otak peserta ketika memandang foto-foto yang positif, negatif atau netral. Peserta kemudian diminta cepat membuat keputusan untuk memilih salah satu dari dua risiko dalam perjudian.

Sang peneliti, Brian Knutson, menunjukkan bahwa fMRI dapat digunakan untuk memprediksi apakah orang tersebut akan mengambil risiko atau tidak. Ketika mengambil risiko, area otak yang disebut nucleus accumbens menunjukkan aktifitas yang makin meningkat. Ketika memilih untuk menghindari risiko, area berbeda yang disebut insula menunjukkan peningkatan.

Knutson dan koleganya meneliti mahasiswa laki-laki heteroseksual. Foto laki-laki diperlihatkan untuk merangsang respons emosional, foto erotis digunakan untuk merangsang respons positif, foto ular dan laba-laba untuk meminta respons negatif, dan foto perlengkapan kantor untuk memicu respons netral.

Setelah melihat setiap foto, para peserta diminta segera memutuskan apakah akan memilih perjudian yang berisiko tinggi atau memilih perjudian yang berisiko rendah. Terlepas dari pilihannya, mereka memiliki kesempatan menang atau kalah yang sama besar. Knutson memberi setiap orang US$ 10 untuk modal berjudi sebelum memasuki pemindai fMRI.

"Kami ingin mereka benar-benar mempertimbangkannya. Tergantung pada kemampuan berjudi dan hasil acak, mereka bisa menang ataupun kalah. Kami mengambil uangnya kembali jika mereka kalah," kata Knutson.

"Ketika melihat foto erotis, aktifitas di area nucleus accumbens meningkat dibandingkan dengan rangsangan lain. Peningkatan aktifitas di daerah itu terjadi sebelum memilih melakukan perjudian yang berisiko tinggi," kata Knutson seperti dilansir altpenis.com, Senin (16/1/2012).

Para peneliti kemudian menerapkan analisis statistik untuk menentukan apakah aktivasi di nucleus accumbens mempengaruhi beberapa perilaku tertentu. Ternyata aktifasi itu berpengaruh pada rangsangan positif. Setelah melihat foto-foto erotis, peserta cenderung lebih sering melakukan perjudian dengan risiko tinggi.

Temuan ini memperjelas hal-hal apa saja yang mungkin menyebabkan daya tarik emosional menjadi efektif atau tidak efektif dalam iklan, kampanye politik, dan perjudian.

"Di kasino, perempuan kebanyakan mengenakan kostum minim, diberi alkohol gratis, ditambah dengan asesoris lonceng, lampu dan hal-hal yang tampaknya tidak berhubungan dengan judi. Kesemuanya ini dapat mengaktifkan daerah otak yang mendorong orang mengambil risiko, sehingga membuat orang-orang berjudi lagi dan lagi," kata Knutson.