Selamat Datang Di Blog Saya

Sabtu, 26 Maret 2011

2 MILIAR ORANG DI DUNIA TIDAK SADAR PUNYA TBC


Jakarta, Mewujudkan dunia bebas tuberculosis (TBC) dinilai sulit, sehingga WHO baru berani menargetkannya pada tahun 2050. Salah satu kendalanya adalah tidak semua pasien TBC menimbulkan gejala, ada juga yang tampak sehat meski sudah terinfeksi.

Orang-orang yang terinfeksi TBC namun tidak menampakkan gejala disebut dengan istilah TBC laten. Pada kondisi tersebut, pasien tidak sakit namun sewaktu-waktu penyakitnya bisa muncul jika kondisi kurang sehat dan daya tahan tubuhnya menurun.

"Di dunia ada sekitar 2 miliar orang yang terinfeksi TBC, tetapi tidak terdeteksi karena tidak menampakkan gejala," ungkap Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan, Prof Dr Tjandra Yoga Aditama usai pembukaan Kongres Nasional Tuberculosis di Hotel Merlynn Park Jakarta, Jumat (25/3/2011).

Meski belum bisa dikatakan sakit, penderita TBC laten menjadi salah satu hambatan dalam upaya pemberantasan TBC secara global. Justru karena tidak terdeteksi, jumlah penderitanya akan lebih 'awet' karena penyakitnya bisa muncul sewaktu-waktu.

Mengenai target dunia bebas TBC tahun 2050, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih optimistis bahwa Indonesia bisa mewujudkannya lebih cepat asal ada terobosan. Di antaranya dengan membentuk paguyuban untuk menyebarkan informasi tentang TBC, mengembangkan metode pendeteksian yang lebih akurat dan peningkatan gizi.

"Untuk TBC, Indonesia sudah mencapai beberapa target MDGs (Milenium Development Goals) yang sebenarnya ditargetkan pada 2015. Di antaranya kita sudah berhasil menekan angka kematian menjadi 39/10.000 penduduk, angka penemuan kasus 73,1 persen dan keberhasilan pengobatan 91 persen. Tinggal menekan prevalensi yang masih 244/100.000 penduduk," ungkap Menkes.

Menkes menambahkan, hambatan dalam memberantas TBC selain TBC laten adalah jenis penyakityang terus bertambah. Jenis TBC yang menjadi tantangan saat ini antara lain TBC pada pengidap HIV dan multiple drug resistant tuberculosis (MDR-TBC) yang membutuhkan durasi pengobatan lebih lama yakni 12-18 bulan.

TBC MASIH TERUS MENGANCAM MESKI PENDERITANYA BERKURANG


Jakarta, Ancaman tuberculosis (TBC) diyakini masih akan terus meningkat beberapa tahun mendatang. Meski dari sisi jumlah penderitanya bisa makin dikurangi, namun dari sisi yang lain jenis penyakitnya akan semakin bervariasi dan sulit diobati.

"Tantangan ke depannya antara lain TBC sebagai co-infeksi (infeksi penyerta) pada penderita AIDS dan multiple drug resistant tuberculosis," ungkap Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih usai membuka Kongres Nasional Tuberculosis di Hotel Merlynn Park Jakarta, Jumat (25/3/2011).

Infeksi TBC pada penderita AIDS (acquired immune deficiency syndrome) dan pengidap HIV menjadi tantangan tersendiri karena dipastikan angkanya akan terus meningkat. Saat ini saja, Menkes memperkirakan 70 persen pengidap human imunnodeficiency virus (HIV) penyebab AIDS telah tertular TBC.

Pengidap HIV mudah tertular TBC karena virus tersebut menyebabkan daya tahan tubuh pengidapnya melemah. Akibatnya berbagai infeksi penyerta atau infeksi oportunis mudah menjangkiti, termasuk di antaranya TBC yang merupakanpenyebab kematian tertinggi di kalangan penderita AIDS.

Selain itu, multiple drug resistant tuberculosis (MDR-TBC) juga menjadi ancaman berikutnya karena lebih sulit diobati dibandingkan TBC pada umumnya. Jika TBC biasa hanya butuh pengobatan rutin selama 6 bulan, MDR-TBC butuh pengobatan lebih lama antara 12-18 bulan.

Dengan pengobatan rutin selama 6 bulan saja, pasien kadang-kadang tidak patuh sehingga pengobatannya tidak tuntas dan penyakitnya tidak sembuh. Dikhawatirkan dengan durasi pengobatan yang lebih panjang, pasien makin tidak patuh karena merasa bosan minum obat.

Sementara dari sisi jumlah penderita, Menkes mengatakan Indonesia perlahan-lahan sudah berhasil menurunkannya meski belum mencapai target 221/100.000 penduduk dan masih menyumbang 6 persen jumlah kasus TBC sedunia. Menkes berdalih, angkanya masih tetap tinggi karena jumlah penduduknya memang sangat besar.

DOKTER JANTUNG SULIT PRAKTIK DI DAERAH


Jakarta, Indonesia punya 493 dokter spesialis jantung dan pembuluh darah yang sepertiganya bekerja di wilayah Jabodetabek. Sisanya di kota-kota besar di Indonesia dan jarang sekali praktik di kota kecil.

Bukan tanpa alasan kalau dokter jantung susah ditemui di daerah. Profesi dokter jantung menuntut adanya fasilitas yang bisa menunjang kerjanya. Dan kebanyakan rumah sakit di daerah sangat minim atau tidak ada sama sekali fasilitas untuk operasi jantung.

"Tidak ada alat yang cukup membuat dokter jantung yang ada di daerah balik lagi ke Jakarta dan lalu diambil oleh rumah sakit swasta. Seperti diketahui rumah sakit swasta sekarang dilengkapi oleh alat yang canggih. Karenanya sepertiga dokter jantung dan pembuluh darah ada di Jabodetabek," ujar ketua PERKI ((Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia) Dr Anna Ulfa Rahayu, SpJP(K) dalam acara konferensi pers ASMIHA (Annual Scientific Meeting Indonesian Heart Association) ke 20 di hotel Ritz Carlton, Jakarta, Jumat (25/3/211).

Jumlah 493 dokter jantung ini menurut Dr Anna sangat kurang untuk melayani rakyat Indonesia yang jumlahnya mencapai 240 juta. Belum lagi distribusi dokter jantung tidak merata.

"Masalah di Indonesia adalah kurangnya dokter jantung dan distribusinya yang tidak merata," ujar Dr Anna.

Seperti yang terjadi di Nusa Tenggara Timur saat ini hanya ada 1 dokter jantung dan pembuluh darah untuk melayani 8 juta penduduk. Hal ini sangat bertolak belakang dengan yang ada di Singapura, penduduknya hanya 5 juta tapi dilayani oleh 160 cardiologist (dokter jantung dan pembuluh darah).

Dr Anna menuturkan distribusi yang tidak rata ini karena dokter yang pergi ke daerah akan kembali lagi ke Jakarta karena di beberapa daerah tidak dilengkapi dengan fasilitas.

Maka itu PERKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia) menargetkan ada 1.000 dokter spesialis jantung dan pembuluh darah pada tahun 2020. Untuk mencapai target maka kollegium ilmu jantung dan pembuluh darah telah meresmikan penambahan pusat pendidikan SpJP dari 2 menjadi 12.

Pusat-pusat pendidikan ini bernaung di bawah fakultas kedokteran yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia dengan menggunakan rumah sakit kelas A dan B milik pemerintah sebagai wahana pendidikan.

"Pusat pendidikan ini nantinya harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana seperti di rumah sakit jantung atau RSCM,' ujar Dr Anna yang juga menjabat sebagai ketua PERKI.

Penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular) kini telah menjadi pembunuh utama dan yang paling menonjol adalah hipertensi, stroke dan penyakit jantung koroner. Di negara berkembang jumlahnya meningkat dan menyerang golongan usia produktif sehingga berpotensi mengurangi angka pendapatan negara dan juga menambah angka kemiskinan.

Untuk mencegah penyakit ini masyarakat diharapkan menerapkan pola hidup sehat dengan mengurangi konsumsi garam, tidak merokok, pola makanan sehat, teratur berolahraga dan menghindari stres.

BANYAK KASUS PENYAKIT, RI JADI TUAN RUMAH KONGRES EPIDEMIOLOGO


Jakarta, Banyaknya kasus penyakit baik yang menular dan tidak menular, serta penyakit-penyakit baru, membuat Indonesia memiliki banyak pengalaman untuk bisa dibagi dengan negara lain.

Pada bulan November 2011, Indonesia juga didaulat menjadi tuan rumah dari Konferensi Epidemiologi Internasional yang diadakan di Bali.

"Indonesia punya banyak yang bisa di-share, karena kita punya berbagai masalah (penyakit)," tutur Prof dr Tjandra Yoga Aditama, MPH, Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemkes, pada acara jumpa pers di Gedung Kemkes, Jakarta, Jumat (25/3/2011).

Tepatnya tanggal 8-11 November 2011 akan diadakan The Sixth TEPHINET (Training Programs in Field Epidemiology and Public Health Intervention Network) Southeast Asia and Western Pacific Biregional Scientific Conference di Bali Nusa Dua Convention Centre.

TEPHINET merupakan jaringan epidemiologi global yang memposisikan diri membantu dan memberi dukungan kepada anggotanya, yaitu FETP (Field Epidemiology Training Programme) dan FELTP (Field Epidemiology and Laboratory Training Programme) di seluruh dunia dalam menghadapi tantangan penerapan epidemiologi dan intervensi di lapangan untuk mengatasi masalah kesehatan masyarakat.

Sedangkan epidemiologi adalah cabang ilmu yang mempelajari tentang seberapa sering penyakitdialami oleh suatu kelompok orang yang berbeda dan mencari tahu bagaimana bisa terjadi.

Ilmu ini bermanfaat sebagai informasi untuk merencanakan dan mengevaluasi strategi-strategi yang telah dilakukan, memberikan petunjuk kepada pada petugas kesehatan untuk menindaklanjuti perkembangan pasien.

"Selama ini sudah beberapa kali kongres kita tidak pernah jadi tuan rumah, dan kita bersyukur pada tahun 2011 ini kita menjadi tuan rumahnya," jelas Prof Tjandra.

dr Maria Consorcia Lim Quizon dari Safetynet menyatakan bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang pertama di seluruh negara yang mengadakan training FETP.

"Kami sangat beruntung karena Indonesia menjadi tuan rumah, karena Indonesia punya banyak hal yang bisa di share, scientific community yang terutama mengenai emergen infection," jelas dr Maria.

Prof Tjandra mengatakan bahwa Indonesia punya banyak yang bisa dibagi, karena mempunyai berbagai masalah.

"Kita pada dasarnya punya 3 macam masalah, selain penyakit menular yang biasa seperti TB, Malaria, AIDS. Kita juga punya penyakit menular yang baru, kita punya H5N1, H1N1 ada, sementara sekarang penyakit menular juga meningkat. Kita punya program untuk penyakit menular yang lama yang sudah sejak awal, penyakit tidak menular relatif baru kita baru mulai tahun 2007-an , sementara penyakit yangnew emerging disease kita tangani sesuai dengan waktunya. Jadi apa yang menjadi keberhasilan kita akan kita share, kekurangan kita juga akan kita share. Dan kita tentunya akan mengambil manfaat dari kongres ini untuk meningkatkan kemampuan kita," tutur Prof Tjandra.

Prof Tjandra menjelaskan, konferensi ilmiah ini bertujuan sebegai berikut:
  1. Meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan masyarakat dalam bidang epidemiologi  terapan dalam menjawab berbagai masalah kesehatan dunia
  2. Berbagi informasi dan pengalaman dalam bidang epidemiologi dan intervensinya
  3. Membangun jejaring kerja
  4. Menunjukkan pencapaian mahasiswa FETP dan tenaga kesehatan

"Topiknya terbuka penyakit zoonosis, bisa penyakit menular seperti antraks, pes dan sebagainya, disamping penyakit-penyakit yang tidak menular juga bisa diangkat dalam topik ini. Jadi sesuai dengan temanya surveilens global, bagaimana penyakit menular H1N1, H5N1, SARS dulu yang tidak kenal tapal batas, dia tidak perlu bawa paspor masuk ke Indonesia, masuk ke negeri orang, maka social network itu sangat penting, ini salah satu wadahnya," jelas Dr I Nyoman Kandun, Direktur FETP Indonesia.

Konferensi ini akan diikuti oleh 40 negara dan diharapkan bisa mencapai sekitar 700 peserta. Ahli atau mahasiswa di bidang epidemiologi bisa ikut serta dan mendaftarkan abstrak penelitiannya di web http://tephinet.fetpindonesia.org.

"Kongres ini membahas kemajuan dari satu negara dengan negara yang lain. Nah, kita tentu juga akan menbahas kemajuan-kemajuan kita, juga dari Filipina, China, dan lainnya. Apa yang dilakukan di negaranya, kemudian kita akan berdikusi apa yang bisa diambil dari negara lain," jelas Prof Tjandra.

TAK ADA SPERMA ASLI, SPERMA TABUNG PUN JADI


Yokohama, Tak lama lagi para pria yang punya masalah dengan ketidaksuburan akan segera mendapatkan jalan keluar. Dengan teknologi mirip bayi tabung, para ilmuwan berhasil menciptakan sperma buatan yang akan menjadi solusi efektif bagi pria mandul.

Terobosan ini berawal dari eksperimen yang dilakukan seorang ilmuwan Jepang, Dr Takehiko Ogawa. Bersama dengan timnya di Yokohama City University, ia berhasil mengembangkan sel punca atau stem cell dari buah zakar menjadi sel sperma yang sehat.

Sel punca yang dipakai dalam eksperimen tersebut diambil dari buah zakar seekor anak tikus. Persis seperti bayi tabung, proses pembelahan sel punca hingga membentuk sel sperma dilakukan dalam tabung uji yang kondisinya dikontrol sepenuhnya oleh para ilmuwan di laboratorium.

Sama halnya dengan sperma yang dihasilkan secara alami, sperma hasil pengembangan sel punca juga bisa membuahi sel telur. Ketika disuntikkan ke tikus betina, sperma itu menghasilkan 12 anak tikus yang terdiri dari 4 tikus jantan dan 8 tikus betina.

Sperma buatan ini juga terbukti cukup kuat, karena masih bisa digunakan meski sudah dibekukan dalam nitrogen cair selama beberapa pekan. Artinya jika diaplikasikan pada manusia, sperma buatan semacam ini bisa disimpan dulu untuk dipakai beberapa tahun kemudian.

"Kami berhasil membuktikan bahwa kondisi untuk spermatogenesis (proses pembentukan sperma) bisa diciptakan secara in vitro atau di luar tubuh makhluk hidup," tulis Dr Ogawa dalam laporan yang dipublikasikan di jurnal Nature, seperti dikutip dari Telegraph, Jumat (25/3/2011).

Temuan ini cukup menjanjikan bagi pria yang bermasalah dengan produksi sperma, mengingat proses spermatogenesis merupakan salah satu proses paling rumit dalam tubuh makhluk hidup. Saat ini tidak banyak intervensi yang bisa dilakukan untuk memperbaiki kualitas sperma selain dengan diet.

MATAHARI PAGI BAGUS UNTUK PENDERITA DIABETES


Jakarta, Sinar matahari pagi ternyata tidak hanya baik untuk kesehatan tulang, tapi juga bermanfaat bagi penderita diabetes. Vitamin D yang ada dalam sinar matahari bisa membantu memperbaiki kadar gula darah.

Studi terbaru menemukan bahwa vitamin D yang didapatkan tubuh saat terkena sinar matahari pagi bisa membantu penderita diabetes tipe 2 memperbaiki kadar gula darahnya.

Vitamin D yang cukup ternyata bisa membantu sel-sel di tubuh yang bertugas memproduksi insulin bekerja dengan baik, seperti dikutip dari Menshealth.com, Sabtu (26/3/2011).

Peneliti dari Iran melibatkan 90 orang penderita diabetes tipe 2 selama 12 minggu dengan memberikan vitamin D dan satu kelompok diberikan vitamin D yang ditambah kalsium.

Peneliti mendapatkan peserta yang mengonsumsi vitamin D baik yang ditambah dengan kalsium atau tidak memiliki kadar gula darah yang secara signifikan lebih baik.

Hal senada juga diungkapkan oleh Esther Krug, MD, seorang endrokrinologi dari Sinai Hospital of Baltimore yang menuturkan bahwa vitamin D memiliki peran aktif dalam mengatur sel beta pankreas yang berfungsi membuat insulin.

Bahkan sebuah penelitian lain yang dipublikasikan dalam Diabetes Care menunjukkan tingkat vitamin D yang rendah bisa membuat orang dewasa berisiko mengalami prediabetes dan juga prehipertensi.

Selain itu mengonsumsi suplemen yang mengandung vitamin D dan kalsium bisa memperlambat progres dari penyakit diabetes tipe 2. Karena adanya hubungan yang memungkinkan ini maka skrining defisiensi vitamin D pada orang dengan diabetes tipe 2 bisa saja dilakukan.

Sinar matahari sebelum jam 9 pagi bisa memberikan banyak manfaat bagi kesehatan tubuh seperti mengurangi kadar kolesterol darah, meningkatkan kualitas pernapasan, membuat tubuh menjadi lebih segar serta bisa menyehatkan tulang.

MELAHIRKAN TANPA RASA NYERI DENGAN TEKNIK ANESTESI


Jakarta, Melahirkan merupakan pengalaman yang membahagiakan sekaligus menyakitkan bagi seorang ibu. Penelitian-penelitian telah dilakukan untuk mengurangi pengalaman menyakitkan saat persalinan, sehingga persalinan dapat memberikan pengalaman yang lebih membahagiakan.

Ilmu Anestesi (Pembiusan) telah memperkenalkan cara baru teknis anestesi untuk persalinan tanpa rasa nyeri, sehingga ibu dapat melahirkan dengan rasa sakit seminimal mungkin. Salah satu teknik pilihan yang dilakukan oleh dokter spesialis anestesi adalah dengan menggunakan teknik anestesi epidural. Epidural adalah ruang antara kedua selaput keras dari sumsum belakang.

Teknik anestesi epidural ini dilakukan serupa dengan teknik anestesi spinal saat operasi. Bedanya adalah pada teknik anestesi spinal, anggota gerak bawah ibu (kaki) akan dengan sengaja 'dilumpuhkan' atau tidak dapat digerakkan dalam jangka waktu tertentu.

Pada teknik anestesi epidural, hanya saraf yang memberikan respon nyeri yang utamanya dilumpuhkan untuk sementara waktu. Teknik ini dilakukan dengan melakukan penyuntikan di daerah punggung untuk dilakukan penempatan suatu kateter kecil yang berguna untuk menyuntikkan obat anestesi epidural.

Obat anestesi epidural akan bekerja selama beberapa jam, yang sebelum efeknya habis, dokter anestesi akan memberikan instruksi untuk memberikan suntikan obat anestesi epidural selanjutnya melalui kateter yang sudah dipasang. Ibu masih dapat melakukan aktivitas seperti biasa karena saraf yang di blok hanyalah saraf yang memberikan rangsang nyeri.

Untuk persalinan, blokade dikhususkan untuk mengurangi rasa sakit di daerah rahim, leher rahim dan bagian atas vagina. Tetapi otot pangul masih dapat melakukan gerakan rotasi kepala bayi untuk keluar dari jalan lahir ibu. Ibu masih bisa mengejan, sehingga masih dapat dilakukan persalinan melalui jalan lahir.

Lebih nyaman lagi, apabila ternyata persalinan harus dilakukan dengan operasi sectio cesarea (SC), dokter anestesi dapat melakukan perubahan komposisi obat untuk dapat menyesuaikan pembiusan untuk operasi.

Selain itu, dengan teknik anestesi ini, ibu masih dalam keadaan sadar selama operasi, sehingga dapat langsung bertemu dengan bayinya di kamar operasi. Ditambah dengan keuntungan lain dimana pasien langsung dapat langsung mobilisasi, tidak seperti teknik anestesi spinal yang harus menunggu paling tidak 24 jam atau sampai dinyatakan aman untuk mobilisasi.

Kelebihan lain dari teknik anestesi epidural adalah dengan teknik ini dapat untuk pembiusan dalam waktu yang lebih lama, tidak seperti teknik anestesi spinal yang terbatas 1-2 jam, sehingga ibu dapat segera melakukan aktivitas normal setelah operasi.

Bila dibandingkan dengan teknik anestesi umum, teknik ini mempunyai kemungkinkan komplikasi paska operasi yang lebih sedikit. Disamping itu, dengan kateter yang telah dipasang dapat pula digunakan untuk pemberian obat anti nyeri langsung pada saraf yang dikehendaki, sehingga nyeri paska operasi juga dapat diminimalkan.

Adalah hak pasien untuk mengetahui prosedur medis yang akan dilakukan padanya. Dan adalah hak pasien untuk menyetujui dan memilih prosedur yang ada.

dr. M. Helmi, Sp.An., MSc.
PhD Research Fellow
Intensive Care Adults Erasmus MC, Kamer H602 's Gravendijkwal 230, 3015CE
Rotterdam, The Netherlands

45 RIBU BAYI DI INDONESIA LAHIR DENGAN PENYAKIT JANTUNG BAWAAN


Jakarta, Penyakitjantung bawaan biasanya sudah dimiliki oleh seorang anak sejak ia dilahirkan. Di Indonesia diperkirakan sekitar 45 ribu bayi lahir dengan kondisi penyakit jantung bawaan.

"Diperkirakan sekitar 45 ribu bayi lahir dengan kondisi jantung bawaan," ujar dr Poppy S Roebiono, SpJP yang juga dokter jantung anak dalam acara konferensi pers ASMIHA (Annual Scientific Meeting Indonesian Heart Association) ke 20 di hotel Ritz Carlton, Jakarta, Jumat (25/3/211).

dr Poppy menuturkan penyebabnya antara lain:

  1. Dari si ibu yang memiliki penyakit
  2. Mengonsumsi obat tertentu saat hamil
  3. Tidak menjaga kehamilannya (mengalami hipertensi atau terkena tokso)
  4. Faktor genetik (meskipun kecil pengaruhnya)
  5. Lingkungan (seperti asap rokok).

"Umumnya faktor yang sulit dikendalikan adalah dari lingkungan, misalnya asap rokok. Bukan hanya pada ibu yang merokok, tapi asap rokok disekitar juga bisa berpengaruh," ujar dokter yang praktek di RS Jantung Harapan Kita Jakarta.

Kondisi bayi yang memiliki jantung bawaan ini bervariasi, ada yang sudah menunjukkan gejala sejak lahir seperti tubuhnya biru (wajah, mulut, kuku) atau mengalami sesak napas tapi ada juga yang tidak.

Untuk yang tidak bergejala biasanya baru diketahui jika tubuh si anak kurus, susah minum, berat badannya tidak naik (misalnya usia 6 bulan tapi berat badannya seperti sebulan) sehingga terlihat seperti malnutrisi. Jika seperti itu sebaiknya periksakan kondisi jantungnya.

"Diperkirakan sekitar 45 persen bayi dengan jantung bawaan sudah muncul keluhan sejak ia dilahirkan," ungkapnya.

Bayi-bayi dengan penyakit jantung bawaan yang tidak terdeteksi bisa menyebabkan kematian. Kondisi ini turut berkontribusi terhadap tingginya angka kematian bayi di Indonesia.

Penanganan untuk penyakit jantung bawaan ini juga berbeda-beda tergantung dari kondisinya. Untuk kasus yang ringan biasanya tidak memerlukan operasi tapi hanya mengonsumsi obat-obatan tertentu saja.

Sedangkan untuk kasus yang berat membutuhkan operasi pembedahan untuk memperbaiki kondisi jantungnya, atau bisa juga dengan cara memasukkan alat untuk menutup lubang di jantung dengan bantuan kateter.

Kateter yang berisi alat untuk menutup lubang di jantung ini akan dimasukkan melalui paha hingga ke jantung. Tapi tidak semua kondisi bisa diatasi dengan metode penggunaan kateter ini, tergantung dari lokasi lubangnya.

"Teknik kateter ini bisa memberikan kesembuhan pada anak hingga 100 persen, tapi tidak semua dokter bisa melakukan teknik kateter tersebut," ujar dr Poppy.

dr Poppy menuturkan saat ini di Indonesia hanya terdapat 45 dokter ahli jantung anak (kardiologi anak) dari 493 dokter spesialis jantung dan pembuluh darah yang ada.

dr Poppy menyarankan bagi para ibu hamil agar memeriksakan kehamilannya secara rutin pada dokter atau bidan setempat untuk mengetahui kondisinya, memeriksakan tekanan darah, jangan sembarangan mengonsumsi obat-obatan dan memperhatikan lingkungan di sekitarnya.

ANAK KENA RADANG TENGGOROKAN BAERKALI-KALI WASPADAI JANTUNG RUSAK


Jakarta, Anak-anak kadang seringkali mengalami radang tenggorokan dan demam. Tapi kondisi ini sebaiknya jangan diabaikan, karena jika infeksi terus berulang bisa menyebabkan gangguan di jantung.

"Jika anak mengalami sakit panas, susah nelan, sakit radang tenggorokan sebaiknya jangan dianggap biasa. Karena infeksi berulang yang disebabkan olehStreptococcus beta hemolyticus group A bisa menyebabkanpenyakit jantung reumatik pada anak," ujar dr Poppy S Roebiono, SpJP yang juga dokter jantung anak dalam acara konferensi pers ASMIHA (Annual Scientific Meeting Indonesian Heart Association) ke 20 di hotel Ritz Carlton, Jakarta, Jumat (25/3/211).

Penyakit jantung reumatik (PJR) dalam bahasa medis dikenal dengan Rheumatic Heart Disease (RHD) adalah suatu kondisi yang mana terjadi kerusakan pada katup jantung yang bisa berupa penyempitan atau kebocoran. Permasalahan penyakit jantung reumatik ini biasanya banyak menimpa anak-anak dengan sosial ekonomi rendah.

Masalah yang bisa timbul pada penyakit jantung reumatik ini adalah katup mengalami penyempitan sehingga aliran darah menurun, kebocoran pada katup yang memungkinkan darah mengalir ke arah yang salah atau kerusakan otot jantung sehingga fungsi pemompaan darah menjadi terganggu.

dr Poppy menuturkan jika anak terkena infeksi Streptococcus beta hemolyticus group A maka tubuh akan memberikan perlawanan untuk menghilangkan racun yang dikeluarkan oleh si kuman. Jika infeksi tersebut sering terjadi atau berulang maka racun ini bisa menyebabkan katup jantung rusak atau mengalami peradangan.

"Kejadian ini biasanya menyerang anak-anak pada usia 5-15 tahun, meskipun ada juga yang terjadi pada anak di bawah usia 4 tahun tapi jumlahnya sangat sedikit," ujar dr Poppy.

dr Poppy menambahkan, awalnya katup jantung mungkin hanya merah saja, lalu berkembang menjadi seperti berkoreng dan lama-kelamaan bisa menyebabkan kerusakan atau kebocoran pada katup sehingga harus diganti.

Untuk menanganinya harus dilakukan operasi pembedahan untuk mengganti katup yang rusak, pada masalah katup tertentu bisa diatasi dengan menggunakan teknik kateter tapi hal ini masih sulit dilakukan.

"Jika anak mengalami radang tenggorokan sebaiknya beri perawatan, misalnya dengan memberikan antibiotik dan mencegah infeksi berulang," ujar dr Poppy yang berpraktek di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta.

MAKAN JUNK FOOD SAAT HAMIL BIKIN ANAK JADI PECANDU JUNK FOOD


Jakarta, Junk foodadalah makanan tinggi lemak, manis dan sedikit nutrisi. Makanan ini tidak direkomendasikan bagi orang dengan kondisi kesehatan tertentu, terlebih untuk ibu hamil. Wanita yang hobi makanjunk food saat hamil bisa membuat anaknya kelak juga jadi pecandu junk food.

Sebuah laporan baru yang telah dipublikasikan dalam FASEB Journal menunjukkan bahwa ibu hamil yang makan junk fooddengan kandungan tinggi gula dan lemak cenderung memiliki bayi atau anak yang kelak menjadi pecandu junk food juga.

Menurut laporan tersebut, makanan yang tinggi lemak dan gula dapat menyebabkan perubahan dalam jalur otak janin, yang akibatnya dapat mengubah preferensi makanan.

Temuan ini tidak hanya memberikan gambaran mengapa obesitas semakin meningkat di seluruh dunia. Tetapi juga menjelaskan mengapa ada orang yang dengan mudah menolak makan makanan manis dan berlemak, sementara yang lainnya menjadi kecanduan makanan tersebut.

"Hasil ini akan membantu kita untuk lebih memperhatikan diet makan selama kehamilan dan menyusui, agar memberikan awal yang terbaik bagi kehidupan bayi," jelas Beverly Muhlhausler, Ph.D., penulis penelitian dari FOODplus Research Centre di School of Agriculture Food and Wine di University of Adelaide, Adelaide, Australia, seperti dilansir sciencedaily, Sabtu (26/3/2011).

Ilmuwan menemukan ibu yang makan junk food memiliki tingkat reseptor untuk opioid yang lebih tinggi setelah mereka disapih.

Hal ini menunjukkan bahwa bayi yang ibunya makan lemak tinggi dalam jumlah berlebihan dan junk food ketika hamil atau menyusui, cenderung memiliki preferensi yang lebih besar untuk makanan serupa di kemudian hari.

"Sungguh ironis ketika ada ibu yang mengomeli anaknya agar mau makan buah dan sayur, tetapi bisa saja kebiasaan anaknya makan junk food berasal dari kebiasaannya yang makan junk food waktu hamil dan menyusui," jelas Gerald Weissmann, MD, pemimpin redaksi FASEB Journal.

Temuan ini diharapkan dapat meyakinkan ibu hamil untuk lebih banyak makan sayur dan buah serta mengurangi makan makanan yang tinggi lemak dan gula.

MELUKIS BISA MEMBANTU ANAKUNGKAPKAN PERASAAN NYA


Jakarta, Orangtua lebih sering mengajarkan anaknya membaca dan menulis tapi jarang yang mengajari melukis atau menggambar. Padahal melukis bisa membantu anak mengungkapkan perasaannya.

Anak-anak umumnya suka menggambar, mencoret-coret atau membuat tanda pada kertas bahkan dinding rumah dengan menggunakan pensil atau krayon. Kondisi ini kadang membuat orangtua kesal karena rumah menjadi berantakan.

Jangan emosi dulu karena menggambar dan melukis bisa membantu anak mengekspresikan pikirannya. Kegiatan ini akan mendorong kemampuan imajinatifnya sehingga membantu perkembangan keterampilannya (skill development), seperti dikutip dari IndiaParenting, Sabtu (26/3/2011).

Dengan membantu anak untuk menggambar dan melukis maka itu mengembangkan kemampuannya dalam berimajinasi serta meningkatkan keterampilan motoriknya secara bersamaan karena kegiatan ini turut melibatkan jari-jari dan tangan.

Orangtua bisa mulai mengajarkan anaknya untuk menggambar atau melukis pada usia 12 atau 14 bulan.

Bagi balita lukisan atau gambar seperti eksperimen dan tidak mempedulikan hasil akhirnya. Anak-anak ini akan bermain dengan warna dan menggambar hal-hal yang menurutnya menarik dan disukai.

Beberapa orang mungkin berpikiran bahwa balita yang bermain cat atau menggambar hanya akan mendapatkan kotor saja tanpa ada manfaat lainnya. 

Hal ini tidak sepenuhnya benar karena pada usia tersebut anak memiliki banyak emosi, jadi menggambar atau melukis bisa menjadi media untuk mengeskpresikannya sambil bermain dengan berbagai warna.

Agar kegiatan ini tidak mengotori rumah dan dinding, tak ada salahnya bagi orangtua untuk menyediakan alat dan kertas atau buku untuk anak menggambar. Serta ikutlah bergabung dengannya sehingga kegiatan ini bisa dilakukan bersama-sama dan mendorong kreativitasnya.

Menghabiskan waktu bersama dengan anak sambil belajar melukis atau menggambar menggunakan cat atau krayon merupakan saat-saat yang indah serta bisa meningkatkan ikatan antara orangtua dan anak.

Tapi jika anak menggambar di dinding atau mengotori rumah, orangtua sebaiknya tidak membentak atau memarahinya karena akan membuat anak takut sehingga menghambat perkembangan imajinatifnya. Orangtua bisa memberitahunya secara perlahan dan baik-baik sambil memberinya pengertian.

ANAK BATUK PILEK JANGAN DIBERI ANTIBIOTIK


Jakarta, Batuk dan pilek adalah penyakit yang paling umum dialami anak kecil. Jika diberi antibiotik justru bisa memperparah kondisinya dan anak jadi lebih sering batuk pilek.

"Balita yang dikasih antibiotik justru akan makin sering batuk pilek," ujar Prof Iwan Dwiprahasto selaku Guru Besar Farmakologi Universitas Gajah Mada dalam acara workshop jurnalis kesehatan di FISIP UI, Depok, Sabtu (26/3/2011).

Prof Iwan menuturkan pada umumnya anak-anak mengalami batuk pilek sebanyak 4-5 kali dalam setahun. Tapi jika anak diberi antibiotik maka bisa saja dalam setahun anak menjadi 10 kali batuk pilek. Jika diberi antibiotik secara terus menerus suatu saat bisa saja anak sakit setiap minggunya.

"Setiap orang diresepkan antibiotik, padahal batuk pilek tidak memerlukan antibiotik," ujar Prof Iwan yang menangani bagian Farmakologi dan Terapi/Clinical Epidemiology and Biostatistics Unit FK-UGM/ RSUP Dr Sardjito Yogyakarta.

Sebuah studi mendapatkan partisipan yang diberikan antibiotik dan partisipan yang diberi plasebo (obat kosong) menunjukkan waktu kesembuhan yang sama. Beberapa studi lain juga menunjukkan penggunaan antibiotik pada penyakit atau kondisi yang sebenarnya tidak perlu.

"Obat antibiotik juga tidak boleh dicampur di dalam obat puyer dan harus terpisah,"  ujarnya.

Hal-hal lain yang menjadi masalah dalam obat puyer adalah kebersihan (apakah menggunakan masker dan sarung tangan saat meracik), dosis yang umumnya tidak sama tiap bungkus, homogenitas, higroskopis, penyerapan obat yang berbeda di dalam lambung, keterampilan, interaksi antar obat.

Prof Iwan menuturkan interaksi antar obat bisa berupa saling menguatkan, kadar obat lain ditekan, pengobatan menjadi tidak efektif, pengobatan menjadi beracun hingga kegagalan pengobatan.

"Dalam hal ini bukan karena obat itu yang membunuh pasien, tapi caranya yang salah," ungkap Prof Iwan.

Untuk itu bagi para orangtua sebaiknya lebih cermat dalam memberikan obat pada sang buah hati, dan jika si kecil mengalami batuk pilek sebaiknya tidak perlu diberikan antibiotik.